Selasa, 22 Januari 2013

Laptop & Dreams (Kisah Nyata)

Diposting oleh Unknown di 07.25 0 komentar

Laptop & Dreams

by Agie Nugroho on Saturday, December 29, 2012 at 12:05pm
“Hari ini  adalah sebuah pembelajaran berharga mengenai Persabahatan, Syukur, dan Sebuah Perjuangan dalam hidup.”

27 Desember 2012. Bunyi rentetan blackberry messenger di pagi buta cukup memaksa kelenjar otot mataku untuk segera menatap matahari. Dengan keadaan setengah tertidur, kulihat beberapa broadcast message dengan pesan sama yang dikirim oleh beberapa orang yang berbeda. Kubaca pesan itu dengan mata yang masih sayu,

“Inalillahi wa innailaihi rajiun. Turut berduka cita ats meninggalnya SUTRISMI AN. 2012. Semoga segala amal dn ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. Amiin ya robb..”

“Hah? Beneran nih!?” setengah pikiranku yang masih berada di alam mimpi langsung berputar 180˚ tertuju pada hape yang kupegang. Kubaca pesan itu sekali lagi. Kutanyakan berita ini ke beberapa kawan. Ya, hari ini telah meninggal dunia seorang mahasiswa belia yang masih duduk di bangku kuliah semester satu. Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Fisip Unair itu bernama Sutrismi. Untuk beberapa saat, dadaku bergetar menganga. Inalillahi wainailaihi rojiun, sesungguhnya semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Sungguh kiamat tidak akan ada yang bisa memprediksi, sungguh akhir hayat tidak akan ada yang bisa menyangka. Kuhapus rasa ketakutan dalam pikiranku akan “bagaimana bila waktuku tiba?” dengan mengusap air wudlu.

Jam menunjukan pukul 07.34, kulihat kembali inbox e-mail yang lagi-lagi belum tertera pesan dari responden yang kubutuhkan untuk penelitian skripsi. Berhubung skripsi juga masih ruwet geje suram s74%#%7 72$ 3&*8!!!, terpikir olehku untuk ber-takziah ke rumah almarhum. Seperti biasa, ketika manusia terpikir untuk melakukan suatu perbuatan baik, setan akan selalu dengan gampangnya ngetweet ke hati tanpa menggunakan tombol PING!!! ataupun BUZZ!!! agar manusia langsung memerhatikannya (Agie, 2012:1). Tweet-tweet setan bermunculan di Timeline hati kecilku, “Ciyus ente mau kesana? Miapah? Jauh beud cuy! Ngaps!! Lagian ente emang deket ama anaknya? Kenal ama anaknya? Tau orangnya aja ente kagak! Ente Xbox-an aja di GV, nonton, atau tidur mumpung liburan kartun lagi bagus-bagusnya gan!!”. Ya, menurut informasi dari seorang kawan, lokasi rumah Almarhum cukup jauh. Berada di pedalaman Lamongan, puluhan kilometer dari kota. Wew, mendengar lokasi Lamongan saja sudah cukup membuatku gundah. Namun, kegelisahan tadi shubuh kembali menguatkan niat dan membuatku berpikir,

Seandainya posisiku adalah orang yang sudah dibungkus oleh kain kafan, akankah ada banyak orang yang mengunjungi rumahku? Akankah ada banyak orang yang mengantarkanku ke liang kubur? Akankah ada orang yang membacakan doa untukku sebelum menemui sang Kuasa?”

Dengan keteguhan hati, akhirnya kuputuskan menghubungi beberapa kawan seangkatan untuk menemaniku berangkat ke Lamongan siang ini.
Singkat cerita, kami para rombongan takziah baru berhasil berkumpul pada jam dua siang. Sekitar tiga puluh orang bersedia menyisihkan waktu luang mereka hari ini untuk melakukan perjalanan menuju rumah duka. Tanpa menunda waktu lagi, dibawah sore yang dirangkul awan hitam, kami para rombongan takziah segera menyalakan motor dan berangkat mengantar doa.

***

Dingin, basah, lapar. Waktu sudah menunjukan pukul lima sore dan kami para rombongan masih belum juga sampai ke rumah duka. Beberapa kali kami menuju jalan yang salah. Kebetulan, dari kami para rombongan memang kurang mengerti lokasi desa almarhum Sutrismi. Air mulai berjatuhan dan semakin lama semakin deras ketika kami mulai sampai pada pedalaman Lamongan. Tak ada seorangpun yang menyangka, perjalanan akan selama dan sejauh ini. Jaket yang kami kenakan sudah basah kuyup. Untuk beberapa saat kami terpaksa meneruskan perjalanan menerobos hujan deras karena di sepanjang jalan hanya terpampar sawah tanpa adanya tempat untuk berteduh. Kulihat di depan dan belakang, beberapa anak mulai menggigil kedinginan karena dinginnya suhu dataran tinggi dan air hujan. Kaca pada helm mulai berembun, pandangan ke jalan juga mulai buram saat kami terus diserang oleh air dari langit. “Adem nggigil kayak pas MK (Malam Keakraban) kemarin ya, Mas?” gurau seorang kawan yang merupakan teman seangkatan almarhum. Kayaknya mereka ketagihan di-ospek.

Setelah menemukan SPBU untuk beristirahat dan maghrib-an sejenak, kami sampai pada perbatasan Lamongan-Mojokerto dimana rombongan akhirnya berbelok pada gang sempit di sebuah pedesaan. Sinar matahari baru saja mengucapkan ‘sampai jumpa esok hari’. Pandangan semakin fokus dan terarah hanya pada dua arah, ke belakang untuk saling menjaga kawan dibelakang, ke depan untuk melihat kemana arah cahaya lampu motor menuntun kita. Kami tengah dirangkul kegelapan total.

Cahaya merah di depanku kembali miring. Lagi-lagi ada motor seorang kawan yang terpeleset jatuh di kubangan lumpur. Rombongan semakin memasuki daerah pelosok. Begitu masuk ke jalan pedesaaan ini, lama-kelamaan kami tidak merasakan lagi aspal. Jalanan ini hanya terdiri dari bebatuan, tanah yang lembek, lumpur yang licin, dan kubangan air hujan. Kegelapan dan dinginnya alam seolah menegur kepada setiap orang di rombongan ini. Bahwa kebersamaan para rombongan sahabat Sutrismi ini sedang diuji. Lumpur menjamah sebagian celana jeansku, sepatuku lebih nampak seperti roti yang dilapisi cokelat, tangan kananku diranda rasa pegal dan bergetar sambil menahan keseimbangan.  “Astagfirullahaladzim, sulit banget jalan yang dilalui Sutrismi buat mengejar cita-cita nuntut ilmu di Surabaya?” pikirku. “Gak bisa mas, sinyalnya sama sekali gak ada.” Kata seorang kawanku yang sedang kubonceng, “Pas dia sakit kira-kira berapa jauh ya mas perjalanan buat nganter ke rumah sakit? Sama sekali gak ngeliat puskesmas daritadi”. Samar-samar dari kejauhan kudengar suara bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Alhamdulillah, setelah perjalanan yang begitu lama dan begitu sulit, tepat pukul 19.05 kami sampai di rumah duka.

***

Rumah itu hanya disusun dari beberapa balok kayu. Alasnya hanya beralaskan tanah. Anyaman bambu-bambu tradisional digunakan sebagai karpet untuk melindungi penghuni rumah dari sengatan dinginnya malam. Beberapa warga setempat sudah berkumpul di tengah-tengah ruangan. Kami para rombongan menyalami warga satu persatu mengucap salam hangat ramah tamah selayaknya budaya Jawa. Cairan teh hangat sedikit menghilangkan rasa pegal dan linu tubuh kami. Beberapa kawan masih menggigil menahan tiupan dinginnya alam.

“Jauh ya mas perjalanannya?” sapa seorang laki-laki yang raut wajahnya masih cukup muda. “Kenalkan saya pamannya Yanti.” Kami mengangguk ramah. Beberapa kawan perempuan masih menggoyang-goyangkan hape mencoba mencari sinyal. Ya, mereka  bisa kupahami. Pasti untuk anak perempuan seperti mereka, jam segini orang tua sudah mulai bingung menanti kabar dari putrinya. Tak ada satupun dari mereka yang mengeluh mengenai perjalanan ini. Sifat manja sementara mereka simpan dalam hati walaupun raga telah lelah, lapar, dingin, dan terkotori oleh lumpur. Sungguh rombongan ini terdiri dari perempuan dan sahabat yang hebat.

Sang paman kembali melanjutkan pembicaraan, “Jadi, Almarhum ini kalau di rumah dipanggil Yanti. Ini semua temen-temen kampus-nya Yanti ya?”. Iya mas” kami serentak menjawab dibumbuhi senyuman. Beberapa ada yang langsung menambahi “saya teman satu kos-nya mas.”, “saya temen deketnya mas.”, “saya dulu yang sering jahili dia mas, maaf”. “Alhamdulillah, sepertinya Almarhum dek Yanti punya banyak teman. Gak menyangka banyak yang sukarela datang jauh-jauh. Beberapa jam yang lalu temen-temennya dari SKI juga sudah ada yang mengunjungi.” Balas si Paman

Yanti kalau di rumah adalah anak yang ceria. Apa dia juga seperti itu waktu di kampus?”. Beberapa dari kami mengangguk, “iya mas, karena dia anaknya ceria, aktif, makanya saya sering guyonan dan njahilin dia”. “Sebenarnya saya sama sekali tidak menyangka kalau ‘Pangeran’ bakal memanggil Yanti secepat ini. Beberapa minggu yang lalu dia pulang karena mengeluh sakit. Sebenernya Yanti ini jarang pulang ke desa mas-mbak. Selama kuliah di Unair. Baru hanya dua kali si Yanti ini pulang.” Lanjut si Paman “Saya juga heran waktu terakhir dia pulang, badannya kurus banget. Mukanya pucat. Kata dia kemarin waktu dirawat, dia sudah lama sakit. Sebenernya almarhum ini fisiknya sudah lemah sejak dulu. Waktu masih sekolah SMA dulu, dia pernah kecapekan sakit thypus dan minta dijemput buat pulang ke desa”. Dari perkataan si Paman, sepertinya Almarhum Sutrismi sejak dulu sudah menempuh jarak yang jauh untuk sekolah. Ya, dalam perjalanan setelah aku memasuki jalan pedesaan tak beraspal kemari, aku memang tak melihat ada sekolah di dekat-dekat sini.

“Maaf ya mas-mbak sebelumnya, saya hanya masih penasaran biar semuanya jelas. Apa sewaktu kuliah Yanti pernah bilang atau mengeluh kalau dia sakit?” tanya si Paman. Seorang kawan anak perempuan tepat di sebelahku menjawab “Pernah sih mas, waktu itu dia merasa sakit dan saya antar ke AHCC* (Rumah Sakit untuk Mahasiswa Unair setempat), pernah gitu dia tiba-tiba minta dibeliin bubur karena gak kuat untuk makan. Sepertinya dia emang sakit, tapi dia gak pernah mengeluh. Mungkin karena sekarang libur minggu tenang dia akhirnya pulang ke rumah”. Si Paman sedikit menghela nafas, “Hhhh.... memang seperti itu mbak mas anaknya, tidak mau merepotkan orang tua. Ya, mbak mas bisa melihat sendiri keadaan kami. Orang tuanya hanyalah seorang petani. Penghasilannya gak seberapa kayak orang-orang di Kota. Paling sebulan ya Cuma lima puluh ribu.” Ya Allah, aku memelas hati melihat keadaan keluarga almarhum. Aku rasa almarhum Sutrismi adalah seorang mahasiswa yang hebat. Dia mempunyai semangat yang kuat untuk terus bersekolah dan menuntut ilmu. Meskipun dari latar belakang pedesaan yang sangat terpencil dari kota, meskipun hanya seorang anak petani, tetapi dia berani bermimpi besar dan memperjuangkan cita-citanya itu. Hanya dengan bermodalkan impian tersebut, dia berani untuk menantang dunia. Menurut seorang kawannya sekelas, Sutrismi tidak memiliki kendaraan yang bisa ia gunakan setiap hari untuk pergi ke kampus. Ia berjalan kaki kemana-mana. Tak bisa kubayangkan bagaimana ia berangkat dari rumah ini menuju kota dengan jarak yang begitu jauh dan medan yang begitu susah.

“Ini sih hanya menurut orang-orang di sekitar sini ya mas mbak, apa benar kalau Yanti itu anak yang pintar?” tanya kembali si Paman. Raut wajahnya kini memancarkan senyuman yang bangga akan almarhum ponakannya. “Wah iya-iya mas!” beberapa kawan lagi-lagi menyaut berbarengan, “pintar mas anaknya, aktif di gak cuman di kelas.“iya mas, rajin dia selalu siap kalau mau ujian. Kemarin aja banyak teman-teman yang minta bahan dari dia.” nggih mas, dia aja masuk Unair lewat Bidik Misi”. Bidik Misi adalah sebuah jalur penerimaan di kampusku yang dikhususkan untuk anak-anak yang memiliki prestasi tertentu. “Oh iya mas mbak, saya ingat. Dia diterima di jalur seperti itu waktu masuk ke Unair. Dia mendapatkan beasiswa. Tetapi, Yanti tidak sepenuhnya menggunakan uang tersebut untuk keperluan dirinya sendiri. Beberapa waktu yang lalu, dia sempat mengirimkan uang untuk orang tuanya dari beasiswa tersebut”. Subhanallah! Mulia sekali ternyata almarhum adek kelasku Sutrismi. Selain anak yang pintar, dia begitu berbakti pada orang tua. Aku rasa sungguh bangga orang tua Sutrismi memilki anak seperti dia. Kepintaran dan sebuah prestasi apalah gunanya apabila tidak digunakan untuk membantu orang lain dan sesama? Aku merasa malu pada diriku, akupun yang sempat menerima beberapa beasiswa kadang merasa lupa untuk kusedekahkan pada kaum dhuafa yang membutuhkan sebagaimana yang diajarkan pada agamaku.

Sembari mencicipi beberapa hidangan pedesaaan untuk menunda sapaan rasa lapar, si Paman melanjutkan ceritanya, “Sebenernya ada suatu permintaan dari Yanti yang tidak sempat saya penuhi mas mbak.” Suara si Paman kali ini semakin lama semakin terisak-isak. “Yanti ingin memiliki sebuah Laptop. Ia ingin memiliki laptop tersebut untuk melancarkan kuliahnya. Saya juga berpikiran seperti itu, mungkin dia merasa malu. Saya yakin mas mbak disini adalah orang-orang mampu yang sudah mempunyai benda tersebut. Tapi ya apa daya saya dan orang tua Yanti mas mbak, saya hanya seorang pekerja pabrik, orang tuanya hanya petani. Bukan maksud kami untuk tidak memenuhi permintaan Almarhum. Tapi, jelas kami membutuhkan waktu sedikit demi sedikit untuk mengumpulkan uang”. Astaghfirullah hal adzim, dadaku kian bergetar. Sekilas nampak flashback memori di dalam ingatanku. Waktu aku juga seumur Sutrismi dan duduk di semester satu, orang tuaku menghadiahi sebuah laptop bekas. Laptop itu tak dihiaskan lambang merek terkenal di punggung layarnya. Spesifikasi laptop tersebut jauh dari kata up to date dibandingkan laptop-laptop yang lebih canggih seperti kepunyaan kawan-kawanku. Waktu menggunakannya, aku sering dibuat frustasi karena seringnya hang dan blue screen ketika kugunakan untuk mengerjakan tugas ataupun pekerjaan. Memang tak kuucapkan secara langsung kepada orang tuaku, tetapi dalam hati aku merasa sangat tidak puas pada pemberian mereka. Aku kurang mensyukuri nikmat yang kudapatkan. Melihat cerita Paman Sutrismi hatiku bergetar, menyesal dengan segala perbuatanku. Toh ya kalau dipikir-pikir meskipun dengan segala keterbatasannya, mesin Laptopku ini mampu mengantarkanku sampai pada tahap saat ini. Bagaimana dengan kalian sendiri? Pernahkah kalian merasa bahwa segala yang kalian miliki sangatlah jauh dari cukup? Pernahkah kalian melihat lingkungan sekitar kalian bahwa sebenernya ada orang-orang yang juga menginginkan apa yang saat ini sudah kalian miliki dan sudah kalian capai? Sungguh sebenarnya nikmat Allah tiada tara. Ketika kalian belum merasa puas dengan keadaan yang sekarang kalian alami. Janganlah menyerah, mengeluh, dan berputus asa, karena sesungguhnya Allah akan tidak akan merubah nasib seseorang, kecuali orang itu sendiri mau berusaha untuk merubah nasibnya. Janganlah berpangku tangan menerima keadaan, janganlah menunggu mood kalian bagus baru setelah itu mulai mengerjakan sesuatu. Karena kau tahu? Matahari terus bergantian dengan Bulan memancarkan sinyarnya. Bumi terus berputar pada rotasinya Tahun, Bulan, dan Hari akan terus berjalan. Umur kalian juga semakin mendekati akhir zaman detik demi detik.

Hari ini, aku mendengar sebuah pembelajaran berharga mengenai Persabahatan, rasa Syukur, dan Sebuah Perjuangan dalam hidup. Hari ini aku melihat sekumpulan para sahabat. Sahabat bukan hanya  sekedar teman dikelas, ia adalah tawa ketika kau merasa senang, ia adalah headphone di saat kau merasa susah. Sahabat adalah rasa bangga ketika kau berhasil, ia adalah tangan yang terulur ketika kamu merasa susah. Sahabat adalah sekumpulan nasi bungkus yang kita makan bersama-sama, sahabat adalah dompet cadangan ketika kita merasa lapar. Sahabat adalah awal dari kehidupan di tempat perantauan, sahabat adalah pengantar menuju kematian. Sahabat memang tidak selalu adalah Cinta, ia adalah cahaya yang memberanikanmu menelusuri gelap. Rasa kebersamaan persahabatan malam ini tidak akan dikalahkan oleh hujan deras, bebatuan, dan lumpur sekalipun. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, kami para rombongan masih menyisihkan Tahlilan sebagai salam perpisahan terakhir untuk Sutrismi.

Dalam perjalanan ini aku tersadarkan,

“67 tahun kita meneriakkan kata ‘Merdeka’. 67 tahun kita diakui oleh dunia sebagai bangsa yang bebas. Selama enam dekade kita membaca, menghafal, mempelajari, dan menjadikan UUD 1945 sebagai pedoman hidup Warga Negara yang adil, makmur, dan dipelihara oleh Negara. enam dekade kita menerima janji akan adanya Pemerataan Pembangunan. Lihatlah bagaimana keadaan desa-desa di pelosok. Tak ada jalan yang layak digunakan sebagai sarana transportasi, tak ada penerangan, tak ada puskesmas yang cukup dekat untuk mereka gapai, tak cukup banyak lapangan pekerjaan untuk mensejahterakan pekerja, tak cukup sekolah untuk memfasilitasi pendidikan anak-anak generasi selanjutnya di pelosok.“

Namun, Negeri ini masih memiliki harapan. Harapan akan selalu ada selama engkau masih berani untuk bermimpi. Salah satu harapan dari Indonesia adalah Sutrismi. Perempuan, pemudi asal pedalaman kabupaten Lamongan. Sutrismi adalah orang yang hanya bermodalkan mimpi untuk terus maju. Di tempatnya berasal tidak ada sinyal untuk memperoleh informasi. Ia tidak memiliki kendaraan untuk pergi menuntut ilmu. Ia tidak membutuhkan laptop untuk diakui sebagai anak pintar di kelasnya. Ia adalah harapan dari keluarganya. Ia adalah anak berbakti yang menyisihkan sebagian beasiswanya untuk membantu kebutuhan keluarga. Hari ini seorang Ksatria Airlangga mungkin gugur, thypus & liver mungkin membunuhnya. Tetapi harapan dan semangatnya akan terus hidup di dalam hati kami. RIP Sutrismi, aku mungkin tidak mengenalmu. Tapi kisahmu akan selalu kukenang sebagai inspirasi untuk terus mengejar mimpi.

Kucium tangan dan kusampaikan duka sedalam-dalamnya untuk ibunda Sutrismi, rombongan takziah-pun pulang ke Surabaya dengan membawa spirit baru.

@agienugroho




















Almarhumah Sutrismi. Menurut salah seorang teman sekelasnya, alasan mengapa ia memilih masuk Jurusan Ilmu Administrasi Negara adalah karena suatu saat ia ingin memperbaiki dan membangun sebuah jalan yang layak untuk desa tempat tinggal ia berasal.

















P.S : ini aku cuma copas dari fbnya mas Agie (senior AN UA 2009), kalo mau lihat post aslinya, klik disini



Selamat Jalan dulurAN :)
re-post by Adinda  

SONG ABOUT YOU AND US ♫♪♫

Diposting oleh Unknown di 06.52 0 komentar
Today, January 22nd 2013, is 37 days to my 2nd year anniversary with Aditya Afgan Hermawan, can't wait!!! so i make this post as a part to celebrate..
The pieces of song lyrics following is represent my and our (me & agan) feelings all the time. here they are..


I remember what you wore on the first day 
You came into my life and I thought
 "Hey, you know, this could be something"
•Boys Like Girls feat Taylor Swift - Two is Better than One



This night is sparkling, don't you let it go 
I'm wonderstruck, blushing all the way home
 I'll spend forever wondering if you knew 
I was enchanted to meet yo
•Taylor Swift - Enchanted• 



 We wrote a prelude 
To our own fairy tale
........
So bored to death you held your breath
And I tried not to yawn
You made my frown turn upside down
And now my worries are gone
 Owl City - Hot Air Baloon
  


We are honey and the bee
Backyard of butterflies surrounded me
I fell in love with you
Like bees to honey
So let's up
And leave the weeping to the willow tree
And pour our tears in the sea
 •Owl City - Honey and Bee



I wanna feel alive forever after
 And you say, you say you wanna feel alive forever after
•Owl City- Dreams And Disaster



If you're the bird
Whenever we pretend it's summer
Then I'm the worm
I know the part, it's such a bummer

If I'm your boy
Let's take a shortcut we remember
And we'll enjoy
Picking apples in late September like
We've done for years
Then we'll take a long walk
Through the cornfield
And I'll kiss you
Between the ears

If you're my girl
Swirl me around your room with feeling
And as we twirl
The glow in the dark stars on your ceiling
Will shine for us
As love sweeps over the room
Cause we tend to make
Each other blush
(Make me blush)
•Owl City - The Bird And The Worm



Switch on the sky and the stars glow for you
Go see the world ‘cause it’s all so brand new
Don’t close your eyes ‘cause your futures’s ready to shine
It’s just a matter of time, before we learn how to fly
Welcome to the rhythm of the night
There’s something in the air you can’t deny
 
Owl City - When Can I See You Again?



Every hand let me go that I tried to hold
Every warm-hearted love left me freezing cold
Keep the pace just in case all the magic dies 'cause this is driving me crazy
 •Owl City - Dementia


 
You'll never be far, I'm keeping you near 
Inside of my heart, you're here 
Go on, it's gotta be time 
You're starting to shine
'Cause what you got is 
Gold, I know, you're gold 
Gold, I know, I knowI don't need the stars in the night, I found my treasure 
All I need is you by my side, so shine forever 
•Owl City - Gold



You were the one and it was enough
 To be the one you were dreaming of 
You were the one and we called it love 
•Owl City - Take It All Away



But not every heart belongs to any other
You and I
You and I are meant to be
I'm the one for you, You're the one for me
You love me as much as I do
When you look at me and we're skin to skin
I want you so
Please come in
And you love me more and more
And my love grows up with you
And you kiss me more and more
And I kiss you, too
•Soko - Take My Heart



'Cause the spaces between my fingers 
Are right where yours fit perfectly
Owl City - Vanilla Twilight



We played golf on the moon 
And tennis on the sun
 Like athletes of the afternoon
 The solar flares burned my arms 
And made her makeup run 
On our super lunar honeymoon 
Owl City - Super Honeymoon



Baby, please don't go
If I wake up tomorrow will you still be here?
I don't know if you feel the way I do
If you leave I'm gon' find you
 •Mike Posner - Please Don't Go



I remember…The way you glanced at me, yes I remember
 I remember…When we caught a shooting star, yes I remember
 I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
 I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn
 •Mocca - I Remember



To ten million fireflies 
I'm weird cuz I hate goodbyes 
I got misty eyes as they said farewell 
•Owl City - Fireflies



You’re the reason why i stay
You’re the one who cannot believe
Our Love will never end
Is it only in my dream?
You’re the one who cannot see this
How can you be so blind?
To be with you is all that i need
Cause with you, my life seems brighter and these are all the things
•Ten 2 Five - I Will Fly



You got the right to remain right here with me 
I'm on your tail in a hot pursuit 
Love is a high-speed chase racing down the street 
•Owl City - I'm Coming After You



I tried to disappear but you're the only reason I'm floating here
Eyes, painted crystal clear, I can see our future through the atmosphere
 
 •Owl City - Speed of Love



P.S : What do you think, huh ? ;)) most of the song's from owl city, right? Yes, cz i'm crazy about owl city, i'm his one-of-the-millions fan!! HAHA . You can see the other owl city songs lyrics here, and find why i do love owl city so damn much!!





 with love,




 

This is a World of Dreams and Reverie ♫ Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos